Minoritas Ditengah Kemayoritasan

Tahun lalu, Februari 2017 tepatnya, aku meminang Swinburne University of Technology, Melbourne, sebagai sekolah lanjutan dan mengambil jurusan Master of Social Impact Investment. Jurusan yang sangat spesifik memang, tak jarang orang yang mendengar akan bertanya, “itu jurusan apa, Sher?”. Untuk memberikan sedikit gambaran, Social Impact Investment adalah sebuah jurusan yang mempelajari tentang bagaimana menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan dan sistemik dari permasalahan yang ada namun juga membuka peluang investasi, ato dengan kata lain “generating impact while you are creating money”

Seru! Aku adalah satu-satu orang Indonesia di kelas, jurusan, bahkan fakultasku. Wajar, jurusan ini belum begitu popular di Indonesia. Di Amerika dan Eropa mungkin sudah. Di Australia sendiri hanya 3 universitas yang menyediakan jurusan ini, Swinburne University di Melbourne, UNSW di Sydney dan University of Western Australia di Perth. Tapi, bukan itu yang ingin aku ceritakan dalam tulisan ini. Namun menjadi satu-satunya orang Indonesia yang belajar jurusan ini, membuat aku pribadi merasakan langsung hidup sebagai “minoritas” dalam segala hal; pola pikir, bahasa, cara hidup, agama dan ras. Membuatku “stress” selama dua bulan pertama menginjakkan kaki di Australia.

Dua bulan berlalu, aku mulai terbiasa dengan bahasa, makanan, pola pikir, hingga pola pikir orang-orang Ausie dalam melihat segala sesuatu. Apapun! Mulai dari politik hingga kebersihan toilet, dari masalah kesetaraan gender hingga tertib lalu lintas. Namun ada yang menarik, ada satu hal mengenai minoritas yang masih belum bisa melebur disini, bahkan bagi kebanyakan orang-orang Indonesia yang statusnya sudah berubah menjadi “warga negara Australia”; minoritas dalam hal agama/ kepercayaan.

Minoritas Dalam Kemayoritasan

Sherly saat bersama teman-teman Australia

Genap satu tahun sudah aku berproses dan berdinamika sebagai minoritas di kota Melbourne ini. Beberapa kegiatan seperti mengerjakan Social Impact Measurement dengan team CERES Global, Announcer di SBS Radio, hingga tugas kelompok di kampus menyeretku pada satu antitesis mengenai konsep dari minoritas; bahwa minoritas itu hanyalah tentang mindset dan menjadi minoritas itu sangat menyenangkan bahkan bikin nagih! Aku jadi bisa membuka pikiran jauh lebih luas, mengetahui lebih banyak hal baru, memahami masalah dari sudut pandang yang lebih luas dari biasanya, mendapat lebih banyak teman dari beragam etnis, bangsa bahkan agama, dan ini semua bermuara pada kesimpulan; “kalo yang dicipta saja sebegini indah dan luas ragamnya, maka sehebat apa Sang Pencipta semua ini? Kalo memang bumi ini dihadirkan dengan tingkat keberagaman yang sebegini apik, maka kenapa masih ada yang merasa enggan untuk saling kenal karena merasa hidup dalam kemayoritasan?”

Sherly bersama supervisor SBS Radio, Australia.
Sherly saat bekerja di SBS Radio, Australia.

Sedikit gambaran latar belakang kehidupanku di Indonesia 😊

Lahir dan besar di sebuah kota kecil bernama Lhokseumawe, Aceh membuatku merasa sangat akrab dengan kehidupan religius. Benar saja, Aceh dikenal sebagai Serambi Mekah dan memiliki otonomi khusus dalam mengatur sistem syari’ah di wilayahnya. Jadi, berhubungan dengan agama yang direpresentasikan melalui simbol sudah sangat lazim bagiku.

Begitu pun saat aku merantau ke Jakarta untuk melanjutkan studi S1 Hubungan Internasional di Universitas Paramadina. Merasakan kehidupan yang lebih plural adalah lazim di ibukota, namun tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia masih tercatat sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Menurut data BPS tahun 2017, 85% dari total jumlah Indonesia adalah muslim. Sehingga dulu bagiku, menunjukkan “identitas” muslim adalah hal yang mudah dan biasa di Indonesia, karena aku hidup ditengah kemayoritasan. Sejenak terbayang, bagaimana polemik yang terjadi di era Pak Harto ya? Dimana teman-teman yang Chinese harus keluar dari Indonesia, atau kasus GAM tahun ’98 di Aceh yang mengharuskan orang-orang jawa angkat kaki dari tanah Rencong, atau Kasus poso di Maluku, ahh… rasanya tak habis jika kita angkat kasus ketidakadilan terhadap minoritas di Indonesia. Seolah berulang dengan wajah berbeda. Bagaimana rasanya jadi mereka? Kehidupan minoritas seperti apa yang mereka jalani ditengah mayoritas kehidupan muslim di Indonesia?

Sherly saat mengerjakan project social impact di Chile

Fakta yang benar-benar berbeda kutemukan di Australia, namun uniknya tak ada masalah hidup sebagai minoritas disini. Kehidupan beragama memang menjadi Hak Asasi manusia, namun bukan berarti mudah menjalankannya. Di Melbourne sendiri, komunitas muslimnya bisa dikatakan lumayan. Ada banyak masjid, pun perkumpulan orang muslim dari berbagai suku, bangsa, etnis bahkan aliran. Tapi bukan itu yang special, toh, di Indonesia juga begitu. BERAGAM.

Menjadi muslim di Australia penuh tantangan, apalagi menggunakan hijab. Aku yakin teman-teman yang berdiaspora di negara yang penduduk muslimnya minoritas juga sama, baik dalam menemukan tempat sholat, makanan halal, berinteraksi, menghadiri party dan undangan, hingga menjawab pertanyaan-pertanyaan logis yang terlontar dari teman-teman bule. Akan sulit bisa menjawab pertanyaan, “kenapa kamu menggunakan penutup kepala?” dengan ayat Al-Qur’an (Annur:31) atau menjawab pertanyaan “kenapa kamu harus sholat lima waktu?” dengan hadist nabi. 😊

Disini tantangannya, kawan. Bahwa menjadi minoritas justru membuka kesempatan kepada kita untuk menjadi agen yang menyampaikan apa yang kita ketahui tentang islam sebagaimana adanya. Sehingga mereka tau dari orang islamnya langsung. Tidak harus “berkoar-koar” untuk menunjukkan siapa kita. Cukup memperlihatkan lewat tindakan. Menjadi agen muslim bisa dimana saja, bahkan menjadi sangat menarik saat kita menjadi minoritas di negeri orang. Yang heran justru “tetap bertahan dengan kemayoritasan meski hidup dalam minoritas”

Benar bahwa Rasul bilang, “carilah teman yang bisa mengingatkan dalam kebaikan”. Tapi Rosul juga nggak sungkan untuk berbaur dengan mereka yang “berbeda”.


5.00 AM, Sherly pamit Sholat Subuh saat briefing tengan berlangsung

Benar bahwa sahabat dan teman dekat kita merepresentasikan siapa kita. Tapi bukan berarti nggak mau keluar dari “zona nyaman” dan melihat dari sudut pandang helicopter. LUAS.

Bukankah justru dengan berbeda kita cenderung lebih banyak belajar? Belajar sesuatu yang baru, memahami sudut pandang baru, dan merasakan pengalaman baru.

Karena pada dasarnya nurani akan kembali pada hakikat. Hakikat yang sesuai dengan keharusan dan kesemestiannya. Kalo begini pola pikirnya, baru benar menggunakan ayat, “berjalanlah di muka bumi Allah, agar semakin banyak yang kau lihat. Semakin besar ketundukanmu pada Sang Pencipta dan semakin banyak kita bersyukur”. Lihat, Dengar, Pahami.

Bukankah sudah seharusnya kita mengenal Sang Pencipta melalui CiptaanNya. Indah, jika perjalanan singkat kita ini diwarnai dengan dan dimaknai dengan syukur.

Luas, jika kita melihat dunia tidak sesempit melihat “hitam dan putih”. Bebas, saat kita tak lagi terpaku pada simbol-simbol dan mendikotomikan kebenaran berdasarkan penafsiran dangkal manusia terhadap ayat2Nya, baik Naqli maupun Aqli.

Untuk itu, melalui tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman Indonesia yang saat ini sedang berdiaspora, dimana pun, yuk kita luaskan sudut pandang dalam memahami keberagaman dan perbedaan. Punya prinsip adalah sebuah keniscayaan, tapi bukan berarti kita menafikan dan mengkerdilkan yang tak seprinsip. Mari lihat perbedaan lebih dekat, supaya kita bisa melihat segalanya dengan lebih bijaksana.

Leave a comment